Penelitiandilakukan dalam waktu 3 bulan di 63 Puskesmas kota Surabaya dengan responden 63 dokter. Instrumen yang digunakan "Kuesioner Kolaborasi Dokter" yang meliputi variabel bebas (karakteristik pertukaran dengan domain kepercayaan, hubungan inisiasi dan peran spesifikasi) dan variabel terikat (praktik kolaborasi). ProgramInovasi SARMA PUSPA merupakan program yang bertujuan untuk mewujudkan prinsip FIFO (First In First Out) FEFO (First Expired First Out) dalam kefarmas Penelitianini untuk mengetahui gambaran pengelolaan obat kedaluwarsa di Puskesmas wilayah Kota Serang tahun 2017. Desain penelitian ini menggunakan studi deskriptif dengan metode observatif. Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas wilayah Kota Serang. Responden penelitian adalah pengelola obat dan kepala puskesmas sebanyak 32 orang responden. Selasa 16 Mei 2017. Bantul, Dinkes- Mewujudkan layanan prima, Puskesmas Pleret meluncurkan 9 program inovasi kesehatan. Puskesmas yang berada di Jalan Imogiri Timur ini terkenal dengan slogannya Serasa Ces Pleng (Senyum, Ramah, Sayang, Cekatan, Etis, Senang, Prasaja, Legawa, Nguwongaken) . "Kami berusaha semaksimal mungkin mewujudkan layanan prima ProgramInovasi Farmasi Peduli Pelanggan (MASLINGGAN) ini berorientasi dan berfokus pada wawancara, saling tukar informasi dan monitoring terhadap pasien yang telah diberikan terapi obat di puskesmas melalui media tekhnologi informasi, baik melalui sarana SMS, telepon maupun media Whatsapp dalam pelaksanaan kegiatannya, yang diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dan evaluasi untuk peningkatan mutu pelayanan Puskesmas. nonton film miracle in cell no 7 subtitle indonesia. Algo que vem chamando atenção no Brasil e no mundo é a aplicação da tecnologia na indústria farmacêutica. Os novos recursos estão se tornando essenciais para o avanço desse mercado, que ganhou ainda mais relevância na pandemia da Covid-19. Por conta do surgimento do novo coronavírus, as indústrias farmacêuticas iniciaram uma verdadeira corrida para descobrir fórmulas de vacinas e medicamentos que possam agir contra o agente infeccioso. Além da produção das vacinas e medicamentos, a tecnologia na indústria farmacêutica também se desenvolve no campo logístico. É nessa área que atua a Sinteco Healthcare, multinacional italiana que oferece soluções para instituições hospitalares. Conversamos com José Marcuci, gerente de aplicações e vendas da empresa italiana. Ele nos contou um pouco mais sobre as inovações e a tecnologia na indústria farmacêutica. Acompanhe! A tecnologia na indústria farmacêutica Marcuci afirma que a tecnologia na indústria farmacêutica tem como uma de suas principais vertentes a promoção da rastreabilidade dos medicamentos, desde a produção até o uso no paciente. Ele cita como exemplo os serviços oferecidos em sua organização “As soluções da Sinteco Healthcare têm como foco a gestão dos medicamentos que são administrados aos pacientes nos hospitais e, para isso, utiliza um conceito de serialização em todas as doses com controles nas diferentes etapas da logística interna”. A aplicação desse conceito, que só é viável por conta dos recursos de automação, é um ponto-chave para permitir às instituições a obtenção total da rastreabilidade dos medicamentos dispensados. Para Marcuci, os avanços tecnológicos no segmento farmacêutico apontam para um cenário onde as empresas e as soluções envolvidas estejam totalmente interligadas. Por conta disso, o mercado está evoluindo para que as operações sejam realizadas em sua totalidade, de forma global e não isolada. “A tecnologia da informação e a robotização certamente serão ferramentas fundamentais para a construção desse cenário”, analisa o especialista. Impactos da pandemia da Covid-19 no mercado farmacêutico Assim como aconteceu em outras áreas, a pandemia da Covid-19 acelerou a tecnologia na indústria brasileira. As soluções de automação e robotização começaram a ser utilizadas para tornar mais ágeis os processos, que agora demandam menor intervenção humana. “Em tempos críticos, nos quais os hospitais estão com sua capacidade máxima de ocupação, o uso da automação e dos robôs pode ajudar os profissionais de saúde que trabalham na linha de frente a dedicarem mais tempo ao assistencialismo”, explica Marcuci. Desafios e projeções para o futuro do segmento No que se refere às tendências e projeções para a tecnologia na indústria farmacêutica, Marcuci aponta que, por ora, devem seguir sendo desenvolvidas soluções com foco, principalmente, no combate à pandemia. “A necessidade de atendimento a distância, proteção das equipes que trabalham na linha de frente e o controle preciso de inventários de medicamentos e insumos nas instituições de saúde por todo o país são alguns dos desafios que tornaram-se mais acentuados na pandemia”, sintetiza. O especialista também explica que as tecnologias inovadoras que surgiram por conta da pandemia seguirão sendo usadas mesmo quando esse cenário caótico terminar. Dessa maneira, a forma como os pacientes são atendidos e a utilização dos serviços farmacêuticos, de modo geral, deve sofrer impactos positivos, com maior utilização da tecnologia. Os avanços da tecnologia farmacêutica, atualmente, estão com foco no combate ao coronavírus. Veja mais sobre o assunto em nosso artigo que apresenta startups brasileiras que se destacam com inovações para frear a pandemia. – Sebagai seorang dokter dengan pengalaman 10 tahun, saya telah melihat betapa pentingnya peran farmasi dalam kesehatan masyarakat. Puskesmas sebagai lembaga kesehatan primer memiliki potensi besar untuk mengembangkan inovasi farmasi yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa topik terkait dengan membangun inovasi farmasi di puskesmas untuk kesehatan masyarakat. Mari kita lihat lebih detail bagaimana puskesmas dapat memanfaatkan potensi farmasi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. 1. Peningkatan Akses Obat-Obatan Salah satu masalah utama dalam pelayanan kesehatan di puskesmas adalah akses terhadap obat-obatan. Banyak puskesmas di daerah terpencil atau perbatasan memiliki keterbatasan dalam persediaan obat-obatan yang diperlukan. Dalam mengembangkan inovasi farmasi, puskesmas dapat memperbaiki sistem persediaan obat-obatan dan distribusinya, sehingga masyarakat dapat lebih mudah mendapatkan obat yang mereka butuhkan. Selain itu, puskesmas dapat memperluas jangkauan akses obat-obatan dengan menerapkan layanan pengiriman obat-obatan ke rumah pasien. Dengan cara ini, pasien yang kesulitan untuk datang ke puskesmas dapat tetap mendapatkan obat yang mereka butuhkan dengan mudah dan cepat. Puskesmas juga dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan akses obat-obatan, seperti aplikasi kesehatan yang memungkinkan pasien untuk memesan obat secara online dan diantar ke rumah mereka. 2. Peningkatan Kualitas Obat-Obatan Tidak hanya akses, kualitas obat-obatan juga sangat penting dalam pelayanan kesehatan. Puskesmas dapat mengembangkan inovasi farmasi dengan memperbaiki sistem pengawasan dan pengendalian mutu obat-obatan yang digunakan. Puskesmas juga dapat memanfaatkan teknologi untuk memantau kualitas obat-obatan, seperti penggunaan alat uji kualitas obat. Dengan cara ini, puskesmas dapat memastikan bahwa obat-obatan yang digunakan aman dan efektif untuk pasien. Selain itu, puskesmas dapat meningkatkan kualitas obat-obatan dengan menggunakan obat generik berkualitas tinggi. Dengan cara ini, pasien dapat mendapatkan obat-obatan yang sama efektifnya dengan obat paten, namun dengan harga yang lebih terjangkau. 3. Peningkatan Edukasi Kesehatan Masyarakat Selain memberikan obat-obatan, puskesmas juga memiliki peran penting dalam penyuluhan dan edukasi kesehatan masyarakat. Dalam mengembangkan inovasi farmasi, puskesmas dapat memperkuat program edukasi kesehatan dengan mengintegrasikan informasi tentang obat-obatan. Puskesmas dapat melaksanakan program penyuluhan tentang penggunaan obat-obatan yang aman dan efektif, serta memperkenalkan obat generik berkualitas tinggi kepada masyarakat. Dengan cara ini, masyarakat dapat lebih memahami pentingnya penggunaan obat-obatan yang tepat dan aman. Puskesmas juga dapat mengembangkan program edukasi kesehatan yang lebih interaktif, seperti kelas masak sehat atau senam sehat yang melibatkan konsumsi obat-obatan yang tepat. 4. Peningkatan Kerjasama antara Puskesmas dan Industri Farmasi Kerjasama antara puskesmas dan industri farmasi dapat membantu meningkatkan akses dan kualitas obat-obatan di puskesmas. Dalam mengembangkan inovasi farmasi, puskesmas dapat menjalin kemitraan dengan industri farmasi untuk memperbaiki sistem persediaan dan distribusi obat-obatan. Industri farmasi juga dapat membantu puskesmas dalam meningkatkan pengendalian mutu obat-obatan. Dengan cara ini, puskesmas dapat memastikan bahwa obat-obatan yang digunakan aman dan efektif untuk pasien. Di sisi lain, puskesmas juga dapat membantu industri farmasi dalam melakukan riset dan pengembangan obat-obatan yang lebih efektif dan terjangkau untuk masyarakat. Demikianlah beberapa topik terkait dengan membangun inovasi farmasi di puskesmas untuk kesehatan masyarakat. Dengan mengembangkan inovasi farmasi, puskesmas dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Halo, gue adalah penulis seru yang doyan banget nulis tentang pendidikan, soal, dan tutorial. Gue nggak cuma berbagi ilmu, tapi juga selipin guyonan biar belajar jadi lebih asyik. Yuk, mari kita eksplor dunia pengetahuan sambil ketawa bareng! Halo, gue adalah penulis seru yang doyan banget nulis tentang pendidikan, soal, dan tutorial. Gue nggak cuma berbagi ilmu, tapi juga selipin guyonan biar belajar jadi lebih asyik. Yuk, mari kita eksplor dunia pengetahuan sambil ketawa bareng! – Di tengah era disruptif pelayanan kesehatan Indonesia, dibutuhkan inovasi farmasi klinik untuk meningkatkan kualitas terapi obat dalam pelayanan kesehatan. Selain penerapan teknologi, dibutuhkan eksistensi sumber daya manusia profesi apoteker mengingat profesi ini merupakan garda terdepan dalam mengawal terapi obat yang efektif dan efisien. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Keri Lestari, Apt. dalam Prosesi Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar Prof. Keri dalam bidang Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur Nomor 35 Bandung, Jumat 6/12. Prof. Keri membacakan orasi ilmiah berjudul “Inovasi Farmasi Klinik untuk Meningkatkan Kualitas Terapi Obat di Tengah Era Disruptif Pelayanan Kesehatan di Indonesia”. Dunia kesehatan di tanah air tak luput dihadapkan pada persoalan dan tantangan menghadapi era revolusi industri dan Selain pemanfaatan IoT, interaksi baru dalam bentuk kolaborasi antar profesi tenaga kesehatan interprofessional collaboration menjadi inovasi untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. Menurut Prof. Keri, hingga saat ini, pemenuhan tenaga apoteker di semua fasilitas kesehatan, terutama puskesmas, masih menjadi tantangan tersendiri bagi peningkatan kualitas pelayananan kesehatan. “ Inovasi Farmasi Klinik menginisiasi lahirnya model interaksi baru tim kesehatan yang lebih inovatif dan masif, yaitu penguatan kapasitas apoteker sebagai bagian penting tim pelayanan kesehatan dalam meningkatkan keamanan pasien patient safety dan kualitas pelayanan kesehatan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Prof. Keri yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset, Pengabdian Pada Masyarakat, Kerja Sama, dan Korporasi Akademik Unpad. Dikatakan Prof. Keri, dunia kesehatan di tanah air tak luput dihadapkan pada persoalan dan tantangan menghadapi era revolusi industri dan Selain pemanfaatan IoT, interaksi baru dalam bentuk kolaborasi antar profesi tenaga kesehatan interprofessional collaboration menjadi inovasi untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. “Dalam menghadapi tantangan tersebut, diperlukan adanya penguatan profesi apoteker sehingga eksistensinya tidak lagi diragukan bahkan dipertanyakan,” ujar Prof. Keri. Prof. Keri menjelaskan, keilmuan bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik mendasari kompetensi apoteker dalam pelayanan kesehatan dan penemuan obat baru. Melalui kajian Farmakologi, apoteker mengetahui bagaimana suatu bahan kimia/obat berinteraksi dengan sistem biologis, khususnya mempelajari aksi obat di dalam tubuh. Sedangkan kajian Farmasi Klinis mendasari interaksi apoteker dan pasien untuk mengoptimalkan terapi obat, meningkatkan standar kesehatan & kualitas hidup, kebugaran wellnes, dan pencegahan penyakit, sesuai filosofi asuhan kefarmasian atau pharmaceutical care. Berdasarkan pengalaman riset pengembangan obat baru dan pelayanan praktek kefarmasian, Prof. Keri mengungkapkan bahwa keilmuan farmasi yang berorientasi pasien patient oriented dan berorientasi produk product oriented saling melengkapi dalam praktek profesi Apoteker. “Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita sebagai apoteker dapat memilihkan produk yang paling cocok sesuai dengan kondisi pasien dilihat dari bentuk sediaan, rute pemberian obat, tipe obat, jumlah obat, dosis, jumlah obat yang diserap dan dimetabolisme, serta inetraksi obat,” ujarnya. Dengan adanya keterkaitan antara product oriented dan patient oriented dapat meningkatkan efektivitas obat sebagai produk dalam menyembuhkan pasien, dimana pengobatan akan lebih tepat sasaran dan user friendly. Salah satu penelitian Prof. Keri adalah pengembangan stevia sebagai minuman manis untuk pasien diabetes. Melalui uji aktivitas antidiabetes, teh stevia diketahui dapat mengendalikan kadar gula dalam darah. Ramuan herbal teh stevia ini telah dipatenkan dengan merk TehDia dan dihilirisasi bekerja sama dengan PT DPE serta mendapatkan izin edar dari BPOM. Penelitian lainnya yaitu pengembangan tablet ekstrak biji pala Myristica fragrans Houtt. sebagai antidiabetes dan antihiperlipidemia. Pengembangan obat baru ini telah dilakukan sejak tahun 2009, didukung oleh Kemenristekdikti dan Kementerian Kesehatan RI. Saat ini hasil penelitian tersebut telah tercatat di Kementerian Kesehatan sebagai bahan baku obat baru bekerja sama dengan PT Kimia Farma Tbk untuk selanjutnya dikembangkan dengan nama produk “Glucopala”. “Pengembangan nutrasetikal TehDia dan juga Kaplet Glukopala merupakan contoh penerapan ilmu farmakologi dan farmasi klinis yang tidak hanya berfokus pada pasien patient oriented tetapi juga pada produk product oriented. Product oriented juga tidak selalu berbicara tentang obat yang sifatnya kuratif, tetapi bisa juga mengarah ke pangan fungsional, karena pelayanan kesehatan bukan hanya berbicara tentang fenomena sakit,tetapi juga fenomena sehat,” ujar Prof. Keri. Sumber Prof. Dr. Keri Lestari, “Hadapi Era Disuptif, Inovasi Farmasi Klinik dan Penguatan Apoteker Dibutuhkan” Seorang warga lanjut usia lansia menjalani pemeriksaan tensi darah sebelum vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Purnama, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu 3/3/2021. Sebanyak warga lansia menjadi sasaran dalam vaksinasi COVID-19 di Kalbar. PONTIANAK-Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtonomeminta puskesmas-puskesmas di wilayahnya mengoptimalkan pelayanan kesehatan bagi Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat 11/3/2022. Ia mengatakan puskesmas yang bangunannya sudah bagus seperti UPT Puskesmas Alian yang di Kelurahan Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, harus meningkatkan pelayanan. Saat mengunjungi Puskesmas Alian yang di Jalan Pangeran Natakusuma, Wali Kota mengatakan bahwa puskesmas sebaiknya memasang rambu-rambu alur pelayanan untuk memudahkan warga yang hendak berobat."Dengan petunjuk-petunjuk yang jelas, masyarakat atau pasien yang datang berobat tidak lagi kebingungan harus ke mana," katanya. Ia mengemukakan pentingnya inovasi pengelola Puskesmas untuk memudahkan warga mengakses pelayanan kesehatan, misalnya dengan menyediakan aplikasi mengenai informasi pelayanan kesehatan. Selain itu, ia mengatakan, kepala puskesmas dan seluruh petugas puskesmas harus memastikan warga mendapat pelayanan kesehatan yang optimal."Sehingga masyarakat yang datang ke puskesmas ini mendapatkan pelayanan yang baik dan memuaskan," katanya. Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu mengatakan bahwa Puskesmas Alian yang menyediakan pelayanan kebidanan dasar dan memiliki ruang rawat persalinan dengan lima tempat tidur."Di Puskesmas Alianyang ini juga terdapat pelayanan fisioterapi, yang mana pelayanan itu baru dua puskesmas yang menyediakannya," katanya. Sidiq berharap Puskesmas Alian bisa menjadi puskesmas unggulan."Kita harapkan inovasi-inovasi yang sudah pernah diraih oleh Puskesmas Alianyang ini terus dikembangkan," katanya. sumber antaraBACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. MEWUJUDKAN INOVASI PELAYANAN KESEHATAN PADA TEKNOLOGI DIGITALInovasi bukan lagi hal baru di sektor publik. Namun dalam praktiknya, inovasi sektor publik sangat dipengaruhi oleh praktik inovasi sektor swasta. Inovasi yang berhasil oleh sektor swasta merupakan motivator yang hebat bagi sektor publik untuk mengembangkan berbagai jenis inovasi. Untuk itu, inovasi di sektor publik dipandang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat. Inovasi sektor publik sangat mirip dan sering dikaitkan dengan perubahan atau reformasi pemerintah. Hal ini biasa dikenal dengan konsep New Public Management NPM dan konsep e-Government. Di Indonesia saat ini inovasi dalam sektor publik erat kaitannya dengan adopsi konsep e-government dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Konsep inovasi dalam sektor publik tersebut mulai dipraktikkan di berbagai negara berkembang karena adanya perkembangan teknologi canggih yang pesat. Konsep inovasi di sektor publik Dengan perkembangan teknologi yang maju, hal tersebut dipraktekkan di berbagai negara berkembang. dengan cepat. Konsep inovasi di negara berkembang berkaitan dengan adopsi atau rekrutmen Penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi atau TIK dalam sistem administrasi publik Pemerintah. Dengan adanya kemajuan teknologi yang dibawa dan dikenalkan dari negara maju, menyebabkan adanya perubahan yang terlihat dari sistem pelayanan yang mulai begeser menjadi lebih modern uga melalui penciptaan ide atau gagasan baru, tetapi lebih banyak melalui proses. Proses inovasi dalam sektor publik di negara berkembang jdopsi inovasi yang sudah ada. Di beberapa negara berkembang, inovasi dianggap sebagai penggunaan teknologi yang canggih ke dalam administrasi publik yang dikenal sebagai konsep egovernment. Pemahaman inovasi di Indonesia dapat dilihat dari berbagai penerapan inovasi yang dilakukan di semua lini pemerintah. Hampir semua instansi pemerintah, memahami inovasi sebagai adopsi penggunaan TIK kedalam proses administrasi publik yang dikenal dengan konsep e-government. Keterkaitan inovasi dengan egovernment dapat terlihat dari penerapan TIK pada lingkungan instansi pemerintah dalam menyediakan pelayanan publik secara elektronik e-government. Meskipun demikian juga terdapat beberapa instansi yang memahami inovasi bukan hanya sekedar penggunaan TIK dalam administrasi publik. Kondisi pelaksanaan e-government di Indonesia masih sangat bervariasi, meskipun dalam peraturan dijelaskan bahwa pelaksanaannya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk kerjasama. Hal ini terlihat dari perhatian pemerintah dalam pengembangan egovernment masih terpusat pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dimana pendefinisian e-goverment oleh pemerintah masih sebatas website. Oleh karena itu pada awal pelaksanaan e-government masih cenderung dimaknai sebagai penyediaan website, meskipun dewasa ini sudah berkembang dengan berbagai aplikasi. Adapun implementasi, hal-hal terlihat sangat baik dalam persiapan atau produksi. Ini berarti bahwa hampir semua otoritas memiliki situs web dan proses pembaruan informasi yang berkelanjutan. Namun berdasarkan data yang ada, baik di tingkat pusat maupun daerah, ada beberapa website negara yang salah kelola secara Dewasa ini merupakan perkembangan konsep e-health bukan hanya menfokuskan pada pelayanan medis di Rumah Sakit saja, melainkan pada kegiatan pelaksana pelayanan kesehatan yang dilakukan di Puskemas. Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya Peraturan Menteri Kesehatan No 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat /Puskesmas. Menjangkau seluruh masyarakat memerlukan program Sistem Informasi Manajemen Puskesmas atau SIM Puskemas yang terintegrasi dengan baik melalui berbagai kegiatan pelaksanaan. Dalam program SIM Puskesmas terdapat empat bentuk kegiatan pelaksana antara lain sistem pendaftaran pasien, sistem rekam medis pasien, sistem pengobatan atau farmasi dan sistem pembayaran. Dalam mempemudah dalam melaksanakan kegiatan pelaksana pelayanan kesehatan di Puskemas, setiap daerah mulai mengembangkan berbagai bentuk strategi atau inovasi. Kegiatan pelaksana pelayanan kesehatan disetiap Puskesmas sebelumnya dilakukan dengan cara manual atau tradisional. Kelemahan dalam penggunaan cara manual atau tradisional menjadi tantangan bagi setiap Puskesmas untuk melakukan pengembangan strategi. Dewasa ini di berbagai daerah mulai mengembangkan berbagai strategi yang memanfaatkan TIK dalam melakukan kegiatan pelaksana pelayanan kesehatan di Puskesmas. Dinas Kesehatan berhasil mengembangkan strategi yang memanfaatkan TIK dalam melakukan kegiatan pelaksana pelayanan kesehatan di Puskesmas yang dikenal dengan aplikasi SIMPUS / Sistem Informasi Manajemen Puskesmas. Aplikasi SIMPUS merupakan salah satu bentuk inovasi dalam sektor publik yang menfokuskan pada bidang kesehatan di daerah yang dapat mengakomodir semua kegiatan pelaksanaan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Meskipun keberadaan aplikasi SIMPUS melalui berbagai tahap pengembangan. Kemunculan inovasi dalam sektor publik ini sebagai bentuk komitmen Pemerintah Daerah dalam menerapkan Undang-undang No 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah yang termuat dalam pasal 386 tentang Inovasi Daerah. Dalam keseriusannya menerapkan undang-undang ini secara optimal dalam berbagai bentuk inovasi di berbagai sektor. Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya

inovasi farmasi di puskesmas